Kamis, 18 Januari 2018

Di Balik Perpecahan, Agama Dikambinghitamkan



Oleh : Eka Tresna Setiawan*

            Banyak orang dalam hidupnya mengikatkan diri pada agama yang dianut masing-masing. Tak bisa dipungkiri bahwa agama sudah menjadi candu bagi setiap pemeluknya. Candu di sini bukan dalam arti negatif. Banyak hal yang didambakan setiap manusia tidak bisa terpenuhi dengan segala upaya. Dambaan bukan selalu tentang hal yang bersifat materil, akan tetapi juga soal ketenteraman dalam bersosial. Permasalahan atau konflik sosial antar umat manusia seakan tak akan pernah berakhir sampai akhir dari dunia ini. Di sini, agama menjadi rambu-rambu yang mengatur jalan kehidupan penganutnya agar tidak mengganggu satu sama lain, seperti rambu-rambu lalu lintas yang mengatur lalu lintas sehingga keselamatan masing-masing pengemudi bisa dijamin.
            Konflik sosial yang terjadi, khususnya kaitannya dengan relasi lintas agama, jika ditelaah sedikit lebih dalam, maka akan berpusat pada kepentingan-kepentingan manusia. Setiap individu banyak yang mempunyai kepentingan yang berbeda-beda. Setiap individu yang memiliki kesamaan kepentingan terhimpun dalam suatu kelompok atau komunitas, kemudian disebut sebagai cita-cita bersama. Akan tetapi, cita-cita suatu kelompok bisa jadi berbeda dengan kelompok lainnya, bahkan berlawanan. Dapat dilihat bahwa perbedaan sifatnya relatif, bisa perbedaan antar individu atau kelompok, bahkan kelompok pun tergantung lingkupnya.
            Konflik sosial yang sering muncul di masyarakat di antaranya dengan mengatasnamakan dan pembelaan terhadap agama masing-masing penganutnya. Adanya konflik-konflik yang mengatasnamakan agama seolah memperlihatkan bahwa setiap agama punya rambu-rambu yang berbeda. Dari perbedaan-perbedaan tersebut maka lahirlah kepentingan-kepentingan yang kerap dianggap berlandaskan agama. Dalam hal ini, agama menjadi kepentingan bagi setiap penganutnya dan harus dipenuhi. Padahal, adakah agama yang mengajarkan untuk merugikan orang lain? Suatu hal yang mustahil jika agama sebagai instrumen keselamatan mengajarkan marabahaya, sangat bertentangan.
            Lantas bagaimana dengan cara hidup masing-masing penganut agama berbeda-beda sesuai ajaran masing-masing? Pola pikir keberagaman yang terimplementasikan dalam Hak Asasi Manusia (HAM) menjadi instrumen penengan di tengah perbedaan-perbedaan manusia. Agama berdasar pada keyakinan yang sifatnya vertikal, akan tetapi implementasinya vertikal dan horizontal. Vertikal berarti berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan yang tercermin dalam ritual peribadatan. Sedangkan, horizontal berarti aturan agama tentang bagaimana seharusnya manusia berelasi dengan sesama secara baik tanpa menimbulkan konflik.
            Konflik yang sering muncul di masyarakat kerap karena fanatisme dalam hal relasi vertikal setiap penganut agama yang diasumsikan berbeda. Alhasil, toleransi menjadi hangus termakan bara api fanatisme. Padahal, setiap keyakinan dan relasi vertikal (keyakinan ketuhanan) adalah sesuatu hal yang tak nampak mana yang benar dan mana yang salah. Apa yang seseorang yakini tidak bisa dipaksakan kepada orang lain. Setiap orang mempunyai hak untuk berkeyakinan. Sehingga, melalui cara pandang HAM pun keyakinan adalah salah satu kebebasan yang dimiliki oleh setiap orang hendak berkeyakinan seperti apa atau bahkan tidak. Sulit memang jika berbicara tentang keyakinan, karena nilai kebenaran dalam keyakinan tak bisa ditunjukkan secara kongkrit.
            Konflik atas dasar agama salah satunya karena agama menjadi sentral dalam kehidupan masyarakat. Mengingat pemahaman akan agama berbeda-beda, maka tak heran jika sampai kini masih ada konflik yang terjadi. Pasalnya, setiap penganut agama berusaha mengedepankan agamanya masing-masing karena posisi agama sebagai sentral kehidupan. Masing-masing perbedaan masih ada saja yang kurang toleran dengan perbedaan di sekitarnya. Jika saja semua orang bisa memahami bahwa ajaran semua agama tidak ada yang mengantarkan pada perpecahan, maka andaikan secara ritual berbeda tetapi dapat saling toleransi antar umat beragama.
            Kepercayaan adalah sesuatu hal yang tidak bisa disamaratakan di antara seluruh umat manusia. Sebagaimana kita ketahui bersama, kepercayaan adalah sesuatu hal yang tidak selalu bisa dicerna oleh manusia secara keseluruhan. Satu orang memegang satu kepercayaan belum tentu dapat di terima oleh hati orang lain sebagai suatu kebenaran. Masing-masing punya jalan sendiri dalam hal kepercayaan. Oleh karena itu, kepercayaan tidak bisa saling memaksakan satu sama lain.
            Jika argumen golongan agamis garis keras dalam memaksakan kepercayaan atau menerapkan ajaran mereka kepada orang lain adalah karena memperjuangkan agama, maka perlu diketahui bahwa setiap agama pun punya nilai kebenaran masing-masing. Karena semua agama sama-sama memperjuangkan keselamatan, maka mustahil ajarannya membawa malapetaka atau kerugian bagi sesama makhluk. Setiap agama punya ajaran yang berbeda-beda, akan tetapi bukan berarti ada ajaran yang disalahkan. Dengan tujuan keselamatan yang sama, perbedaan hanyalah dalam ranah jalan untuk mencapainya. Selama ini banyak omong kosong perjuangan demi agama yang merugikan sesama manusia. Agama dan ajarannya tidak bisa dijadikan alasan untuk memaksa dan merugikan orang lain.
            Dalam suatu kepercayaan atau agama pun banyak perbedaan paradigma atas ajaran agamanya. Kitab-kitab suci yang diinterpretasikan berbeda-beda merupakan salah satu hal yang tidak bisa disamaratakan satu sama lain. Minimnya toleransi atas perbedaan paradigma dalam pemahaman ajaran agama juga menjadi salah satu hal yang tidak bisa dipaksakan sama antara satu dengan yang lain. Keberadaan banyaknya sekte dalam agama merupakan salah satu contoh bagaimana agama dipahami berbeda-beda dan tidak mesti bisa dapat saling terima paradigma satu sama lain. Setiap perbedaan hanya bisa saling menghormati dan toleransi.
            Dalam perbedaan sekte, jika dilihat dari nilai toleransi terbagi menjadi dua golongan, yakni sekte inklusif dan sekte eksklusif. Sekte inklusif bersifat toleran dalam segala aspek kehidupan antar sekte atau antar agama. Sekte inklusif tetap berpegang teguh pada keyakinan sendiri tanpa merugikan sekte atau agama lainnya. Sekte eksklusif bersifat tertutup untuk bisa mentolerir sekte atau agama lain. Sekalipun di antara mereka ada yang tolerir, hal itu tidak pada setiap bidang kehidupan atau terbatas. Sebagian sekte eksklusif yang minim toleransi ada yang termasuk golongan radikal. Mereka membawa nama agama untuk menyerang golongan lain dengan alasan ajaran agama yang mereka pahami.
            Di posisi lain, golongan inklusif dengan inklusivitasnya dituntut untuk bisa menyikapi golongan eksklusif dengan semestinya. Andai saja golongan inklusif tidak bisa mentolerir cara pandang ataupun perbuatan golongan eksklusif, maka hasil akhirnya sama saja bahwa mereka yang disebut inklusif pun memiliki sifat eksklusif. Lalu apa yang akan dilakukan golongan inklusif atas kekerasan yang dilakukan oleh golongan eksklusif? Intinya, golongan inklusif dituntut untuk mencegah kekerasan dan tanpa merugikan atau menggunakan kekerasan kepada golongan eksklusif. Dalam perjalanannya, diharapkan bahwa semua orang dapat tolerir satu sama lain perbedaan, karena setiap kepercayaan dan cara pandang bertujuan untuk kebaikan. Jika tujuannya adalah untuk kebaikan, maka tidak pantas jika saling merugikan satu sama lain perbedaan. Agama tidak perlu lagi dikambinghitamkan, karena masing-masing agama dan masing-masing pemahaman setiap sektenya memiliki tujuan untuk kebaikan. Oleh karena itu, jika ada kekerasan atau perbuatan merugikan yang mengatasnamakan agama itu hanyalah omong kosong belaka.
            Sistem pemerintahan yang pluralis di Indonesia tidak mengandung unsur kesalahan apapun karena menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama. Adapun konflik-konflik yang terjadi bukan persoalan kesalahan sistem, akan fanatisme masing-masing golongan yang mengalahkan nilai-nilai toleransi. Fanatisme yang membalut kepentingan-kepentingan individu, golongan atau bahkan politik bisa menjadi pemantik perpecahan. Sebagai bangsa yang terdiri dari beragam perbedaan dalam setiap aspek kehidupan manusia, bangsa Indonesia mestinya sudah sejak lama dewasa dalam menyikapi. Perpecahan dengan mengatasnamakan agama yang terjadi sampai saat ini tidak sepantasnya masih ada.
            Kemaslahatan adalah kata kunci utama untuk dijadikan term dalam perjuangan mencegah perpecahan. Jika ada pemahaman dalam ajaran suatu agama yang mengandung unsur kemudaratan bagi sesama manusia, maka mesti ditelaah lagi. Semua agama mempunyai tujuan kemaslahatan. Penelaahan menjadi penting, karena jika ada ada pemahaman yang ganjil atas ajaran agama, hal itu bisa digunakan oleh oknum-oknum tertentu untuk merugikan sesama dan pencemaran agama. Perbedaan kerap menjadi senjata ampuh untuk mengedepankan kepentingan individu atau golongan.

0 komentar:

Posting Komentar