Sabtu, 20 Januari 2018

Generasi Muda sebagai Pemutus Rantai Intoleransi



Oleh : Eka Tresna Setiawan*

Keunikan negara Indonesia dari sisi kemajemukan merupakan hal yang sangat luar biasa. Keragaman kultur menjadi salah satu hal yang membuat negeri ini penuh warna. Perbedaan agama merupakan isu sensitif dari masa ke masa. Kuantitas keragaman di negeri ini tak terbandingkan dengan negeri-negeri lain.
Kendati sudah 72 tahun Indonesia merdeka, gesekan-gesekan yang berlatar belakang perbedaan ada kalanya masih muncul. Secara kasar persoalan itu seperti kebalikan dari identitas pribadi sebagai bangsa Indonesia, bangsa majemuk. Cukup lama Indonesia merdeka, tapi belum cukup bangsa Indonesia belajar toleransi. Usia kemerdekaan ternyata tidak sejalan dengan capaian toleransi yang mestinya hal biasa.
Sikap-sikap intoleran berasal dari orang-orang dewasa. Kesinambungan intoleransi dari masa ke masa seolah menjadi estapet tak berujung. Intoleransi layaknya pusaka yang diwariskan dari leluhur kepada anak-cucu bangsa. Lantas bagaimana cara memutus rantai intoleransi agar tidak berlanjut kepada generasi berikutnya?

Kamis, 18 Januari 2018

Di Balik Perpecahan, Agama Dikambinghitamkan



Oleh : Eka Tresna Setiawan*

            Banyak orang dalam hidupnya mengikatkan diri pada agama yang dianut masing-masing. Tak bisa dipungkiri bahwa agama sudah menjadi candu bagi setiap pemeluknya. Candu di sini bukan dalam arti negatif. Banyak hal yang didambakan setiap manusia tidak bisa terpenuhi dengan segala upaya. Dambaan bukan selalu tentang hal yang bersifat materil, akan tetapi juga soal ketenteraman dalam bersosial. Permasalahan atau konflik sosial antar umat manusia seakan tak akan pernah berakhir sampai akhir dari dunia ini. Di sini, agama menjadi rambu-rambu yang mengatur jalan kehidupan penganutnya agar tidak mengganggu satu sama lain, seperti rambu-rambu lalu lintas yang mengatur lalu lintas sehingga keselamatan masing-masing pengemudi bisa dijamin.
            Konflik sosial yang terjadi, khususnya kaitannya dengan relasi lintas agama, jika ditelaah sedikit lebih dalam, maka akan berpusat pada kepentingan-kepentingan manusia. Setiap individu banyak yang mempunyai kepentingan yang berbeda-beda. Setiap individu yang memiliki kesamaan kepentingan terhimpun dalam suatu kelompok atau komunitas, kemudian disebut sebagai cita-cita bersama. Akan tetapi, cita-cita suatu kelompok bisa jadi berbeda dengan kelompok lainnya, bahkan berlawanan. Dapat dilihat bahwa perbedaan sifatnya relatif, bisa perbedaan antar individu atau kelompok, bahkan kelompok pun tergantung lingkupnya.

Rabu, 15 November 2017

Toleran Yuk!



Toleran Yuk! adalah sebuah situs yang menyajikan konten terkait fenomena-fenomena terkait toleransi dan intoleransi. Konten terkait bisa berupa berita, opini, karikatur dan lain-lain. Dalam situs ini, sebagian besar kontennya terkait dengan toleransi seputar kepercayaan. Meski begitu, tidak berarti mustahil untuk menyajikan konten toleransi seputar sosial, budaya, gender dan lain sebagainya.
Kenapa toleransi? Karena, toleransi adalah fenomena yang selalu seksi lintas milenia. Dari zaman klasik sampai saat ini, dan mungkin di masa depan, toleransi menjadi fenomena yang terus hidup. Perubahan sosial dan budaya, serta cara berpikir umat manusia dari masa ke masa, juga ikut mewarnai perspektif toleransi, khususnnya adalam hal agama, sekte dan kepercayaan.