Oleh : Eka Tresna Setiawan*
Keunikan negara Indonesia dari sisi kemajemukan merupakan hal yang
sangat luar biasa. Keragaman kultur menjadi salah satu hal yang membuat negeri
ini penuh warna. Perbedaan agama merupakan isu sensitif dari masa ke masa. Kuantitas
keragaman di negeri ini tak terbandingkan dengan negeri-negeri lain.
Kendati sudah 72 tahun Indonesia merdeka, gesekan-gesekan yang
berlatar belakang perbedaan ada kalanya masih muncul. Secara kasar persoalan
itu seperti kebalikan dari identitas pribadi sebagai bangsa Indonesia, bangsa
majemuk. Cukup lama Indonesia merdeka, tapi belum cukup bangsa Indonesia
belajar toleransi. Usia kemerdekaan ternyata tidak sejalan dengan capaian
toleransi yang mestinya hal biasa.
Sikap-sikap intoleran berasal dari orang-orang dewasa.
Kesinambungan intoleransi dari masa ke masa seolah menjadi estapet tak
berujung. Intoleransi layaknya pusaka yang diwariskan dari leluhur kepada
anak-cucu bangsa. Lantas bagaimana cara memutus rantai intoleransi agar tidak
berlanjut kepada generasi berikutnya?

